Putri, gadis remaja berusia 16 tahun, lebih sering menghabiskan waktu di depan layar ponselnya daripada berinteraksi langsung dengan teman-temannya. Dunia maya baginya adalah tempat yang aman dan nyaman. Di sana, ia bisa menjadi siapa saja yang ia inginkan. la bisa berbagi cerita, foto, dan video tanpa harus khawatir akan penilaian orang lain.
Namun, di balik layar yang cerah itu, Putri merasa kesepian. la merindukan sentuhan nyata, tawa lepas bersama teman-temannya la merasa terjebak dalam dunia digital yang semakin hari semakin menyita waktunya.
Putri, gadis remaja berusia 16 tahun, lebih sering menghabiskan waktu di depan layar ponselnya daripada berinteraksi langsung dengan teman-temannya. Dunia maya baginya adalah tempat yang aman dan nyaman. Di sana, ia bisa menjadi siapa saja yang ia inginkan. la bisa berbagi cerita, foto, dan video tanpa harus khawatir akan penilaian orang lain.
Namun, di balik layar yang cerah itu, Putri merasa kesepian. la merindukan sentuhan nyata, tawa lepas bersama teman-temannya la merasa terjebak dalam dunia digital yang semakin hari semakin menyita waktunya.
Suatu hari, Putri memutuskan untuk mengubah hidupnya. la mulai mengurangi waktu yang ia habiskan di depan layar ponsel. la mencoba untuk lebih aktif lagi di dunia nyata. la mengikuti klub buku di sekolah, bergabung dengan komunitas menulis online, dan bahkan mencoba mengikuti kursus memasak.
Awalnya, Putri merasa canggung dan tidak nyaman. Namun, seiring berjalannya waktu, ia mulai merasa lebih percaya diri dan bahagia. la menemukan bahwa ada banyak hal menarik di dunia nyata yang tidak bisa ia dapatkan dari dunia maya.
Putri belajar bahwa kehidupan yang sebenarnya tidak seindah yang terlihat di media sosial. Ada banyak tantangan dan rintangan yang harus dihadapi. Namun, dengan dukungan dari orang-orang di sekitarnya, Putri yakin bahwa ia bisa mengatasi semua itu.